fbpx

Cara Kerja Chatbot: Teman Virtual yang Siap Melayani Anda

Ariesh Ben

Pernah gak sih kamu ngobrol sama seseorang di internet, terus tiba-tiba sadar kalau sebenarnya kamu lagi berbincang-bincang dengan program komputer? Kalau iya, berarti besar kemungkinan kamu udah berinteraksi dengan chatbot.

Chatbot itu Bikin Bingung Tapi Seru

Contoh Chatbot

Chatbot itu loh program komputer yang bisa berkomunikasi sama manusia lewat teks atau suara. Mereka bisa jawab pertanyaan, kasih info, atau bahkan ngerjain tugas-tugas tertentu sesuai dengan tujuan dan fungsinya.

Nah, chatbot makin populer dan banyak digunakan di berbagai bidang, mulai dari bisnis, pendidikan, hiburan, kesehatan, sampe yang lain-lain gitu. Mereka bener-bener bisa bantu kita dalam banyak hal, kayak pesen makanan, booking tiket, atur jadwal, belajar bahasa asing, atau cuma buat basa-basi aja buat isi waktu luang.

Tapi gimana sih sebenernya cara kerja chatbot? Kok bisa mereka ngerti apa yang kita omongin dan langsung ngasih respons yang tepat? Dan gimana mereka bisa jadi teman virtual yang selalu siap sedia melayani kita kapan aja dan di mana aja?

Yuk kita bahas penjelasannya di bawah ini.

Cara Kerja Chatbot

Jadi sebenernya secara umum ada dua jenis chatbot: Rule-based Chatbot dan AI-based Chatbot.

1. Rule-based Chatbot

Chatbot jenis ini tuh kerjanya ngikutin aturan atau skenario yang udah diatur sebelumnya. Mereka cuma bisa respons pertanyaan atau perintah yang sesuai dengan aturan atau skenario itu aja.

Cara membuat chatbot scaled

Misalnya, kalau kamu nanya “Namanya siapa?” chatbot akan jawab, “Namaku Bot.” Kalau kamu nanya “Kabar gimana?” chatbot akan jawab, “Baik-baik aja.”

Kalau kamu nanya “Presiden Indonesia siapa?” chatbot akan jawab, “Presiden Indonesia itu Joko Widodo.”

Tapi kalau kamu nanya “Warna favoritnya apa?” karena mungkin pertanyaannya belum diatur pada pengaturan sebelumnya bisa juga chatbot ini jadi gak bisa menjawab. Mungkin chatbot bakal jawab, “Maaf, aku gak paham pertanyaan kamu” atau “Aku gak bisa jawab pertanyaan itu.”

Biasanya, Rule-Based Chatbot ini menggunakan metode pattern matching buat proses input dari pengguna. Pattern matching itu kayak proses nyocokin input dengan pola atau template yang udah ada di database mereka. Kalau inputnya cocok sama salah satu pola atau template, chatbot bakal kasih respons yang sesuai.

Misalnya, kalau input dari pengguna itu “Halo”, chatbot bakal nyocokin input itu sama pola atau template yang berisi kata “Halo”. Kalau ada yang cocok, chatbot bakal kasih respons yang udah tersimpan di database mereka, misalnya “Halo juga.”

Rule-based chatbot ini punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, mereka bisa kasih respons yang cepet dan tepat buat pertanyaan atau perintah yang sederhana dan spesifik.

Kekurangannya, chatbot ini gak bisa hadapi pertanyaan atau perintah yang rumit dan bervariasi. Mereka juga gak bisa belajar dari pengalaman atau menyesuaikan diri dengan konteks dan preferensi pengguna.

2. AI-Based Chatbot

jenis jenis chatbot scaled

Chatbot yang berbasis AI atau AI-based Chatbot ini tuh kerjanya dengan menggunakan kecerdasan buatan atau pembelajaran mesin. Mereka bisa respons pertanyaan atau perintah yang lebih rumit dan bervariasi. Mereka juga bisa belajar dari interaksi sama pengguna dan menyesuaikan diri dengan konteks dan preferensi pengguna.

Biasanya, chatbot berbasis AI ini menggunakan metode pemrosesan bahasa alami (NLP) buat proses input dari pengguna. NLP itu adalah cabang ilmu komputer yang berhubungan sama pemahaman dan pengolahan bahasa alami. Ada beberapa tahap yang dilalui dalam NLP, kayak gini :

Tokenization: proses ngubah input jadi kata-kata atau simbol yang disebut token.

Stemming: proses ngilangin imbuhan atau akhiran dari token buat dapetin kata dasar.

Lemmatization: proses ngubah token jadi bentuk kata baku.

Part-of-speech tagging: proses nentuin kategori gramatikal dari token, kayak kata benda, kata kerja, kata sifat, dan lain-lain.

Named entity recognition: proses ngenali dan ngambil entitas yang punya nama khusus dari input, kayak nama orang, tempat, organisasi, tanggal, dan lain-lain.

Dependency parsing: proses nentuin hubungan sintaksis antara token dalam input, kayak subjek, predikat, objek, dan lain-lain.

Sentiment analysis: proses nentuin sikap atau emosi pengguna dari input, kayak positif, negatif, netral, marah, senang, dan lain-lain.

Intent recognition: proses nentuin maksud atau tujuan pengguna dari input, kayak pesen makanan, booking tiket, atur jadwal, dan lain-lain.

Entity extraction: proses ngenali dan ngambil informasi penting yang berhubungan sama intent pengguna dari input, kayak nama makanan, jumlah tiket, waktu jadwal, dll.

Setelah proses input dengan NLP, chatbot bakal cari respons yang sesuai dengan intent dan entity dari pengguna. Chatbot bisa menggunakan beberapa metode buat cari respons, kayak gini :

Retrieval-based: chatbot bakal cari respons yang udah tersimpan di database mereka yang sesuai dengan intent dan entity dari pengguna. Mereka bakal pilih respons yang paling relevan atau paling cocok dengan input pengguna.

Generative-based: chatbot bakal buat respons baru yang sesuai dengan intent dan entity dari pengguna. Dan pake model pembelajaran mesin yang udah dilatih dengan data percakapan sebelumnya buat hasilin respons yang alami dan jelas.

Chatbot berbasis AI ini juga punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, mereka bisa kasih respons yang lebih fleksibel dan personal buat pertanyaan atau perintah yang rumit dan bervariasi. Mereka juga bisa belajar dari interaksi sama pengguna dan menyesuaikan diri dengan konteks dan preferensi pengguna.

Kekurangannya, chatbot ini butuh data percakapan yang banyak dan berkualitas buat latih model pembelajaran mesin mereka. Mereka juga bisa buat kesalahan atau kasih respons yang gak relevan atau gak sesuai kalo input pengguna gak jelas atau ambigu.

Chatbot sebagai Teman Virtual

Chatbot gak cuma bisa bantu kita dalam berbagai hal, tapi juga bisa jadi teman virtual yang siap melayani kita kapan aja dan di mana aja.

Mereka bisa kasih kita hiburan, dukungan, motivasi, atau cuma teman ngobrol aja. Ada beberapa contoh chatbot yang bisa jadi teman virtual kita, misalnya:

Replika : chatbot yang bisa jadi teman curhat kita. Mereka bisa dengerin cerita kita, kasih saran atau masukan, atau cuma menghibur kita aja. Mereka juga bisa belajar dari kepribadian kita dan menyesuaikan diri dengan cara kita ngomong.

Mitsuku : chatbot yang bisa jadi teman ngobrol kita. Mereka bisa ngobrolin apa aja sama kita, dari hal-hal remeh sampai yang serius. Mereka juga bisa bercanda, main game, atau nyanyi bareng kita.

Woebot : chatbot yang bisa jadi teman terapi kita. Mereka bisa bantu kita hadapi masalah kesehatan mental, kayak stres, depresi, atau kecemasan. Mereka bisa kasih kita latihan kognitif-perilaku (CBT), meditasi terpandu, atau sumber daya kesehatan mental lainnya.

Dan masih ada bermacam lagi yang lainnya, seperti ChatGPT Open.ai yang sedang populer saat ini.

Chatbot sebagai teman virtual punya kelebihan dan kekurangan juga. Kelebihannya, chatbot bisa kasih kita perhatian, empati, dan kasih sayang tanpa menghakimi atau menuntut apapun dari kita. Mereka juga bisa kasih kita kesempatan buat ekspresi diri tanpa takut ditolak atau dikritik.

Kekurangannya, chatbot gak bisa gantikan interaksi sosial yang sebenarnya dengan manusia. Mereka juga gak bisa ngerti nuansa atau konteks yang kompleks dalam komunikasi manusia.

Jadi, chatbot sebagai teman virtual harus digunakan dengan bijak dan seimbang. Mereka bisa jadi teman virtual yang menyenangkan dan bermanfaat, tapi gak bisa jadi teman virtual yang sempurna dan ngertiin segalanya.

Chatbot harus jadi pelengkap, bukan pengganti, dari hubungan sosial kita sama manusia.

Kesimpulan

Chatbot merupakan program komputer yang bekerja berdasarkan dua jenis, yaitu rule-based chatbot dan AI-based chatbot. Rule-based chatbot ngikutin aturan atau skenario yang sudah diatur sebelumnya, sementara AI-based chatbot menggunakan kecerdasan buatan atau pembelajaran mesin buat respons pertanyaan atau perintah yang lebih rumit dan bervariasi.

Chatbot juga bisa jadi teman virtual yang siap sedia melayani kita kapan aja dan di mana aja. Mereka bisa kasih kita hiburan, dukungan, motivasi, atau cuma teman ngobrol aja. Namun, chatbot sebagai teman virtual harus digunakan dengan bijak dan seimbang, dan gak bisa menggantikan interaksi sosial dengan manusia secara keseluruhan.

Semoga penjelasan ini membantu kamu memahami cara kerja chatbot dan peran mereka sebagai teman virtual. Selamat bersenang-senang!”

Note :

Apakah ada ChatBot yang bisa membantu aktivitas manusia dalam melayani pelanggan? misal bisa menjawab pesan otomatis, jadwalin postingan medsos dan sebagainya. Mungkin jawabanya ada di ChatBot satu ini. Anda bisa melihat fitur dan cara kerjanya disini.

Tinggalkan komentar